Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sejarag ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia)



Pada tanggal 22 Agustus 1945 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia menetapkan pembentukan Barisan Keamanan Rakyat untuk memelihara keamanan dan ketertiban umum di daerahnya masing – masing . Dalam perebutan kekuasaan terhadap Jepang dan perlawanan terhadap Sekutu serta untuk memperkuat perasaan keamanan umum disadari perlu suatu Angkatan Bersenjata yang tangguh maka pada 5 oktober 1945 pemerintahan mendekritkan pembentukan Tentara Keamanan Rakyat.


Memang para pendiri negara kesatuan republik Indonesia saat itu telah memiliki wawasan luas kedepan,karena memang mereka terdiri dari para negarawan hasil didikan lembaga pendidikan standart Eropa .Mereka yang juga sebagai diplomat-diplomat yang belum ada tandingannya dengan para diplomat Indonesia sekarang,dengan tulus ikhlas tanpa pamrih dalam mengenban tugas amat berat untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari ancaman pasukan pemenang perang dunia kedua itu.


Mereka tanpa mengeluh apalagi minta remunerasi yang tinggi sebagai dalih untuk meningkatkan pelayanannya kepada bangsa dan negara,sehingga mereka dalam kesederhanaannya bisa meraih suatu prestasi yang luar biasa . Mereka tidak mengenal adanya reces,studi banding keluar negeri,ataupun minta berbagai fasilitas dari negara. Mereka seringkali merangkap jabatannya,tetapi mampu melaksakan tugasnya masing-masing dengan sanagat baik.


Setelah kembali dari Vietnam ,Sukarno,Muhammad Hatta dan Rajiman Wediodiningrat seiring menyerahnya Jepang kepada Sekutu ,15 Agustus 1945. Para pemuda yang sebagian diantaranya sudah mengenyam berbagai latihan kemiliteran Jepang dalam Seinendan,Kebodan,Heyho,Gyugun,Peta,Putera dan lasykar Rakyat seperti Hizbullah,TRIP,dan lain-lain mendatangi Sukarno dan Hatta serta merta menghendaki supaya jangan menunggu kemerdekaan pemberian Jepang,tetapi segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia sekarang juga.


Kemudian para pemuda diantaranya terdapat Sukarni,Sayuti Malik,Wikana,Khairul Saleh dan lain-lain membawa Sukarno dan Muhammad Hatta ke Rengasdengklok,untuk menghindari Kota Jakarta yang sangat rawan menjelang pendaratan pasukan sekutu.Sementara Jepang sudah menyerah,sehingga Jepang harus menjaga”staus Quo”tidak boleh ada gerakan-gerakan tanpa ijin sekutu.


Sesuai dengan perjanjian San Francisco dan Civil Affairs Agreement ,maka Indonesia disertahkan kembali kepada Belanda dan hanya pasukan Inggris dan Belanda saja yang mendarat di Indonesia.Dalam kostalasi politik”Vacum of Power” tuntutan para pemuda tidak mungkin bisa dilaksanakan,menyebabkan terjadi perdebatan sengit antara golongan tua dan muda di Rengasdengklok.


Melalui perdebatan yang rada-rada semakin memanas,maka datanglah Ahmad Subarjo yang berhasil menengahinya lalu menjemput mereka kembali ke Jakarta .Rupanya Ahmad Subarjo ,salah seorang diplomat ulung yang pernah dimiliki Indonesia selain Agussalim sebelumnya sudah bernegoisasi dengan perwira Jepang,Laksamana Maeda.Di kediaman Maeda selanjutnya di buat draf teks proklamasi yang kemudian di ketik oleh Sayute Malik,setelah terjadi lagi polemik mengenai siapa yang berhak menandatangani teks proklamsi tersebut.Dan akhirnya memang Sukarno dan Muhammad hatta yang menadatanginya atas nama bangsa Indonesia,sebagaimana yang kita kenal dalam teks proklamasi sekarang.


Setelah teks proklamasi selesai maka terjadi lagi polemik mengenai waktu dan tempat dilaksanakan upacara proklamasi kemeerdekaan yang sangat besar konsekuwensinya,karena melawan status quo yang harus ditegakkan oleh Jepang atas intruksi Sekutu.Sementara waktu itu keadaaannya sangat tegang,keamanan tidak menentu karena memang tidak ada pemerintahan yang definitif.Namun tetap juga para pendiri negara Indonesia tersebut tidak menghendaki pembentukan organisasi ketentaraan,selain hanya lasykar -lasykar pemuda hasil didikan kemiliteran Jepang itu. Tetapi secara militer mereka sudah sangat berpengalaman,bahkan lebih tangguh dari TNI sekarang ini.


Mengapa para pendiri negara belum membentuk angkatan bersenjata untuk mengamankan prosesi yang sangat penting bagi lahirnya Indonesia waktu itu ? menurut berbagai informasi mereka sengaja belum membentuknya untuk menghindari terjadinya konfrontasi dengan pasukan Jepang dan juga pasukan sekutu.Selain itu mereka masih lebih mementingkan langkah-langkah poolitik melalui diplomasi daripada militer. Karena memang mereka sangat unggul di bidang dilpomasi ,soalnya para pendiri negara Indonesia tersebut terdiri dari individu-individu yang sudah lulus” seleksi alam”perjuangan . Mereka sudah keluar masuk penjara kolonial ,yang melahirkan mentalitas-mentalis kokoh ,tawakalla,istiqamah dalam berbagai hal.Mereka memasang badannya hanya untuk negara ini,tanpa mengharapkan remunerasi apapun.


Dari jiwa raga yang tulus ikhlas seperti itu melahirkan sifat-sifat religius dan kenegarawanan yang tinggi sebagai modal dasar perjuangan mereka,yang mendorong mereka memproklamirkan kemerdekaan Indonesia tepat pukul 10 pagi 17 Agustus 1945 dengan pengibaran bendera itu.Selanjutnya mereka tidak mengenal reces segera meghubungi para pejuang lainnya untuk mengadakan Sidang esoknya 18 Agustus 1945.Dalam Sidang PPKI itulah kemudian dipilih Sukarno dan Muhammad hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden pertama Indonesia.


Dalam sidang PPKI pula kemudian dibentuklah berbagai kelengkapan negara,dan sebuah Partai Politik pertama yakni Partai nasional Indonesia yang mengindikasikan,bahwa Indonesia kedepan berbentuk negara republik yang demokratis dan lebih mengutamakan perjuangan diplomati persuasif daripada kekerasan yang repressif.


Walaupun demikian ada jujga pihak-pihak yang menuding,bahwa kemerdekaan Indonesia itu merupakan hadiah Jepang didasarkan atas BPUPKI yang di bentuk Jepang .Konsekuwensinya kelompok-kelompok “Bangsawan”yang merupakan para pejabat kolonial Belanda akan kehilangan jabatannnya jika Indonesia merdeka,makanya mereka tidak senang Indonesia merdeka.


Kelompok itulah yang menyebarkan fitnah,bahwa Indonesia yang baru saja di proklamirkan itu merupakan sebuah negara pro Jepang yang artinya lawan Sekutu. Untuk melawan propaganda mereka tersebut,maka para pendiri bangsa dan negara Indonesia dengan sangat briliyannya membentuk negara demokratis yang buktinya adanya Partai Politik dalam Sidang PPKI,bukan dari Sidang BPUPKI yang sebelumnya di bubarkan pasca usai menyusun draf-draf UUD 1945 dan munculnya Pancasila.Dan untuk menghindari konfrontasi dengan pasukan Jepang dan Sekutu,mereka belum juga membentuk angkatan bersenjata ,yang mengidentifikasikan bahwa Indonesia memang negara yang lebih mengutamakan perdamaian daripada lainnya.


Setelah perlengkapan negara selesai di bentuk,maka KNIP membantu tugas-tugas kenegaraan yang dijalankan oleh Presiden dan kabinetnya .

Baru kemudian Presiden dan jajarannya setelah melalui suatu pertimbangan strategi politik yang matang ,maka tepat 45 hari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia diproklamirkan di susunlah organisasi kemiliteran yang berasal dari lasykar-lasykar pejunag yang tidak diragukan loyalitasnya terhadap Indonesia meskipun mereka berasal dari berbagai etnit ,sosial budaya ,agama dan ideologinya beragam pula.Karenanya tanggal 5 Oktober 1945 diperingati sebagai hari lahirnya TNI yang sebelumnya merupakan lasykar rakyat seperti TKR,BKR,TRIP,Hizbullah,dan lainnya bersatu dalam satu wadah angkatan bersenjata republik Indonesia(ABRI)yang sekarang TNI. Dirgahayu TNI ke 66 ,semoga tetap jaya dan nkuat dalam mengawal bangsa dan negara.


Sejarah Orba ditulis seolah ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) paling berjasa dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Padahal ketika bangsa Indonesia merebut kemerdekaannya, ABRI belum lahir, yang ada ketika itu badan-badan perjuangan yang menghimpun barisan pemuda.


Dari barisan pemuda sipil inilah lahir laskar rakyat yang memegang senjata sebagai hasil perebutannya dari tangan tentara Jepang dengan menyabung nyawa. Perebutan senjata tentara Jepang di berbagai tempat serta pertempuran pertama melawan tentara Inggris (dan Belanda) di Surabaya dan tempat lain, sepenuhnya dilakukan oleh para pemuda dan laskar rakyat, ketika ABRI atau TNI belum lahir. Maka menurut analisis ilmuwan politik Daniel Dhakidae, “Ketika masyarakat [sipil] mempersenjatai dirinya untuk berjuang maka itulah ABRI; ketika anggota ABRI menjagal jenderal-jenderalnya sendiri [1 Oktober 1965] maka itu adalah tindakan “partai”, suatu organisasi sipil ….PKI
….”
Atas inisisiatif KNI (Komite Nasional Indonesia) dibentuk BKR (Barisan Keamanan Rakyat), suatu badan sipil. Pada 5 Oktober 1945 Sukarno-Hatta mengeluarkan maklumat yang “berusaha menyusun” TKR (Tentara Keamanan Rakyat), yang pembentukannya memakan waktu. Selanjutnya baru TRI (Tentara Republik Indonesia) lahir pada Mei 1946, lalu menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia). Tentara resmi yang jumlahnya terbatas bahu membahu dengan seluruh barisan pemuda, pelajar dan laskar rakyatlah yang berhasil mempertahankan kemerdekaan yang hendak dirusak oleh serbuan tentara Belanda.

Perang kemerdekaan sama sekali bukan monopoli ABRI, perang itu dilakukan seluruh rakyat, sebagian di antaranya tergabung dalam laskar rakyat bersenjata seperti PRI, BPRI, Barisan Banteng, Hisbullah, Pesindo dsb. ABRI dalam sejarahnya merupakan tentara yang dibentuk dari para bekas Peta, Heiho, laskar rakyat dan juga sejumlah perwira KNIL yang berpihak pada proklamasi kemerdekaan 17
Agustus 1945.


Perang gerilya hanya dapat dilakukan oleh dukungan rakyat tani di pedesaan yang memberikan perlindungan dan pasokan bahan makan serta bantuan yang lain. Bersama itu pula terdapat dukungan kaum buruh dan kaum pencinta Republik di perkotaan dan daerah pendudukan musuh. Tanpa dukungan kaum tani, tidak akan ada perang gerilya. Pendeknya perang gerilya merupakan perang seluruh rakyat anti penjajahan. Di samping itu ada bagian yang melakukan perjuangan diplomasi.


Selama rezim Orba, ABRI telah disalahgunakan sebagai alat kekuasaan rezim yang mengontrol seluruh aspek kehidupan rakyat dan bangsa, nama ABRI telah dilumuri segala hal buruk yang berhubungan dengan kekuasaan yang sewenang-wenang dan segala macam pelanggaran HAM. Sejak reformasi nama baik itu hendak diperbaiki dengan memulihkan nama TNI. Tentu saja penggantian nama tidaklah serta merta dapat mengubah segalanya yang buruk.


Menurut Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri (2008), “Secara kualitatif profesionalisme TNI (terutama AD) sudah lama mengalami penurunan akibat terlalu lamanya TNI tercebur dalam kolam politik praktis hingga menumpulkan profesionalisme, menggerus keterampilan militer serta menggerogoti karakter keprajuritan sejati”.

Wadah kesatuan Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Kepolisian Republik Indonesia, yang berdasarkan Keppres No. 225/Pit/I 962 bertugas menjaga stabilitas keamanan di dalam negeri dan menyediakan kekuatan militer yang cukup agar Indonesia berada pada posisi yang kuat di dunia internasional sehingga tidak mudah diserang negara lain. Dalam menjalankan tugasnya itu, ABRI memiliki dwifungsi, yaitu fungsi di bidang sosial politik serta pertahanan dan keamanan.

Pergantian Pimpinan. Pada tahun 1990—1995


Pergantian Pimpinan.
Pada tahun 1990—1995 beberapa kali terjadi pergantian pada pucuk pimpinan ABRI. Pada bulan Februari 1993, Jenderal Try
*Sutrisno, yang sejak 1988 menjabat sebagai pangab, menyerahkan jabatan tersebut kepada Jenderal Edi Sudradjat, yang ketika itu menjabat KSAD. Upacara serah terima dilangsungkan di mabes ABRI Ciiangkap.


Dengan diangkatnya Edi Sudradjat menjadi pangab, terjadiiah alib generasi pimpinan ABRI dan angkatan45 ke angkatan pasca-45, yaitu era generasi Akademi Militer Nasional (AMN), sebab Edi Sudradjat adalah lulusan penama AMN tahun 1960.

Dalam Kabinet Pembangunan VI (dilantik 19 Maret 1993) Edi Sudradjat dipercaya untuk menjabat menteri pertahanan dan keamanan, sehingga ia sempat memegang tiga jabatan rangkap (menhankani, pangab, dan KSAD). Sebulan kemudian barulah jabatan panglima ABRI diserahkan kepada Jenderal Feisal 5Tanjung, sedang jabatan KSAD diserahkan kepada Letjen Wismoyo


Pada bulan Pebruari 1994, Pangab Jenderal Peisal Tanjung mengadakan mutasi di beberapa jabatan tinggi ABRI dan menaikkan pangkat sejumlah perwira tinggi. Rangkaian mutasi dan promosi ini dimulai dengan pergantian kasospol ABRI, dan Flaryoto P.S. kepada Letjen


H.R. Hartono. Rangkaian mutasi kembali dilakukan pada bulan Februari 1995 dengan pergantian pejabat KSAD, dan Jenderal Wismoyo Anismunandar kepada Jenderal H.R. Hartono.

Insiden. Adanya gangguan keamanan dalam tahuntahun terakhir menimbulkan beberapa insiden yang mendapat sorotan tajam di dalam negeni maupun di luar negeni. Yang paling besar di antaranya adalah gangguan dan GPK di Timtim yang menimbulkan Peristiwa Dili.

Peristiwa Dili 12 November 1991 merupakan tamparan keras bagi ABRI. peristiwa itu menyebabkan Panglima Komando Pelaksana Operasi Timor Timur Brigjen R.S. Warouw diberhentikan secara hormat dan dinas ABRI karena dianggap bersalah dalam kasus itu. Sedangkan Pangdam IX/Udayana




Polemik tentang Dwifungsi.

 Pada bulan Januari 1992 terjadi polemik antara Jenderal (purn.) Soemitro dan Panglima ABRI Jenderal Try Sutrisno mengenai dwifungsi ABRI. Soemitro melontarkan gagasan pemisahan antara ABRI dan pusat kekuasaan. Menurut Soemitro, ABRI perlu mengkaji ulang peranannya sebab masa krisis sudah berlalu. Dwifungsi ABRI, yang berasal dan ide Jenderal Abdul Hans Nasution pada tahun 1950, lahir dan proses awal ketika ABRI berjuang bersama rakyat. Ia menginginkan ABRI membatasi keterlibatannya dalam urusan-urusan sipil.
readmore »»  

Kronologis Peristiwa Sejarah Hari Pahlawan 10 Nopember

Kronologis peristiwa Sejarah Hari Pahlawan 10 Nopember| Peristiwa besar ini terjadi pada tanggal 10 November 1945 di Kota Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran ini adalah perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan Indonesia terhadap kolonialisme.
Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Sekutu.
Kronologis peristiwa
1. Kedatangan Tentara Jepang ke Indonesia
Tanggal 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, dan tujuh hari kemudian tanggal 8 Maret 1942, pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang berdasarkan Perjanjian Kalijati. Setelah penyerahan tanpa syarat tesebut, Indonesia secara resmi diduduki oleh Jepang.
2. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa itu terjadi pada bulan Agustus 1945. Dalam kekosongan kekuasaan asing tersebut, Soekarno kemudian memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945
3. Kedatangan Tentara Inggris & Belanda
Setelah kekalahan pihak Jepang, rakyat dan pejuang Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Maka timbullah pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah. Ketika gerakan untuk melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada tanggal 25 Oktober 1945. 
Tentara Inggris datang ke Indonesia tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) atas keputusan dan atas nama Blok Sekutu, dengan tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Namun selain itu tentara Inggris yang datang juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. 
NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut membonceng bersama rombongan tentara Inggris untuk tujuan tersebut. Hal ini memicu gejolak rakyat Indonesia dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat Indonesia di mana-mana melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA.
4. Insiden di Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya
Setelah munculnya maklumat pemerintah Indonesia tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia, gerakan pengibaran bendera tersebut makin meluas ke segenap pelosok kota Surabaya. Klimaks gerakan pengibaran bendera di Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru / Hotel Yamato (bernama Oranje Hotel atau Hotel Oranye pada zaman kolonial, sekarang bernama Hotel Majapahit) di Jl. Tunjungan no. 65 Surabaya.
Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman pada sore hari tanggal 18 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan harinya para pemuda Surabaya melihatnya dan menjadi marah karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia, hendak mengembalikan kekuasan kembali di Indonesia, dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.
Setelah insiden di Hotel Yamato tersebut, pada tanggal 27 Oktober 1945 meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris. Serangan-serangan kecil tersebut di kemudian hari berubah menjadi serangan umum yang banyak memakan korban jiwa di kedua belah pihak Indonesia dan Inggris, sebelum akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarno untuk meredakan situasi
5. Kematian Brigadir Jenderal Mallaby
Setelah gencatan senjata antara pihak Indonesia dan pihak tentara Inggris ditandatangani tanggal 29 Oktober 1945, keadaan berangsur-angsur mereda. Walaupun begitu tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata antara rakyat dan tentara Inggris di Surabaya. Bentrokan-bentrokan bersenjata di Surabaya tersebut memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30. 
Mobil Buick yang ditumpangi Brigadir Jenderal Mallaby berpapasan dengan sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah. Kesalahpahaman menyebabkan terjadinya tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia yang sampai sekarang tak diketahui identitasnya, dan terbakarnya mobil tersebut terkena ledakan granat yang menyebabkan jenazah Mallaby sulit dikenali. Kematian Mallaby ini menyebabkan pihak Inggris marah kepada pihak Indonesia dan berakibat pada keputusan pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh untuk mengeluarkan ultimatum 10 November 1945 untuk meminta pihak Indonesia menyerahkan persenjataan dan menghentikan perlawanan pada tentara AFNEI dan administrasi NICA.
6. Perdebatan tentang pihak penyebab baku tembak
Tom Driberg, seorang Anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh Inggris (Labour Party). Pada 20 Februari 1946, dalam perdebatan di Parlemen Inggris (House of Commons) meragukan bahwa baku tembak ini dimulai oleh pasukan pihak Indonesia. Dia menyampaikan bahwa peristiwa baku tembak ini disinyalir kuat timbul karena kesalahpahaman 20 anggota pasukan India pimpinan Mallaby yang memulai baku tembak tersebut tidak mengetahui bahwa gencatan senjata sedang berlaku karena mereka terputus dari kontak dan telekomunikasi. Berikut kutipan dari Tom Driberg:
"... Sekitar 20 orang (serdadu) India (milik Inggris), di sebuah bangunan di sisi lain alun-alun, telah terputus dari komunikasi lewat telepon dan tidak tahu tentang gencatan senjata. Mereka menembak secara sporadis pada massa (Indonesia). Brigadir Mallaby keluar dari diskusi (gencatan senjata), berjalan lurus ke arah kerumunan, dengan keberanian besar, dan berteriak kepada serdadu India untuk menghentikan tembakan. Mereka patuh kepadanya. Mungkin setengah jam kemudian, massa di alun-alun menjadi bergolak lagi. Brigadir Mallaby, pada titik tertentu dalam diskusi, memerintahkan serdadu India untuk menembak lagi. 
Mereka melepaskan tembakan dengan dua senapan Bren dan massa bubar dan lari untuk berlindung; kemudian pecah pertempuran lagi dengan sungguh gencar. Jelas bahwa ketika Brigadir Mallaby memberi perintah untuk membuka tembakan lagi, perundingan gencatan senjata sebenarnya telah pecah, setidaknya secara lokal. Dua puluh menit sampai setengah jam setelah itu, ia (Mallaby) sayangnya tewas dalam mobilnya-meskipun (kita) tidak benar-benar yakin apakah ia dibunuh oleh orang Indonesia yang mendekati mobilnya; yang meledak bersamaan dengan serangan terhadap dirinya (Mallaby).
Saya pikir ini tidak dapat dituduh sebagai pembunuhan licik... karena informasi saya dapat secepatnya dari saksi mata, yaitu seorang perwira Inggris yang benar-benar ada di tempat kejadian pada saat itu, yang niat jujurnya saya tak punya alasan untuk pertanyakan ... "
Ultimatum 10 November 1945
Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, penggantinya, Mayor Jenderal Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum yang menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam6.00 pagi tanggal10 November1945.
Ultimatum tersebut kemudian dianggap sebagai penghinaan bagi para pejuang dan rakyat yang telah membentuk banyak badan-badan perjuangan / milisi. Ultimatum tersebut ditolak oleh pihak Indonesia dengan alasan bahwa Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri, dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) juga telah dibentuk sebagai pasukan negara. Selain itu, banyak organisasi perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali pemerintahan Belanda yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia.
Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar, yang diawali dengan bom udara ke gedung-gedung pemerintahan Surabaya, dan kemudian mengerahkan sekitar 30.000 infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang.
Berbagai bagian kota Surabaya dibombardir dan ditembak dengan meriam dari laut dan darat. Perlawanan pasukan dan milisi Indonesia kemudian berkobar di seluruh kota, dengan bantuan yang aktif dari penduduk. Terlibatnya penduduk dalam pertempuran ini mengakibatkan ribuan penduduk sipil jatuh menjadi korban dalam serangan tersebut, baik meninggal mupun terluka.
Di luar dugaan pihak Inggris yang menduga bahwa perlawanan di Surabaya bisa ditaklukkan dalam tempo tiga hari, para tokoh masyarakat seperti pelopor muda Bung Tomo yang berpengaruh besar di masyarakat terus menggerakkan semangat perlawanan pemuda-pemuda Surabaya sehingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris. Tokoh-tokoh agama yang terdiri dari kalangan ulama serta kyai-kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya juga mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat sipil sebagai milisi perlawanan (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai) shingga perlawanan pihak Indonesia berlangsung lama, dari hari ke hari, hingga dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran skala besar ini mencapai waktu sampai tiga minggu, sebelum seluruh kota Surabaya akhirnya jatuh di tangan pihak Inggris.
Setidaknya 6,000 pejuang dari pihak Indonesia tewas dan 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Korban dari pasukan Inggris dan India kira-kira sejumlah 600. Pertempuran berdarah di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan. Banyaknya pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan.
readmore »»  

Kronologis Penyebab Khasus Perang Dunia II

missojai

Kronologis, Penyebab Umum, dan Penyebab Khusus Perang Dunia II




Meletusnya Perang Dunia II pada dasarnya berkaitan erat dengan Perang Dunia I, yakni merupakan kelanjutan dari Perang Dunia I. Perang Dunia I telah mengakibatkan dampak besar bagi dunia, yaitu seperti kehancuran dan kerugian yang sangat besar, krisis perekonomian dunia, serta kematian jutaan jiwa. Oleh karena itu, salah satu upaya untuk mengakhiri Perang Dunia ke I adalah dengan melakukan genjatan senjata dan merancang suatu perjanjian (perjanjian Versailles) untuk mengakhiri Perang Dunia I.

Perjanjian
Versailles itu berisi tentang tuntutan sekutu (Amerika Serikat, Inggris, Perancis, dan Jepang) kepada Jerman untuk:
(1). Menyerahkan daerah kekuasaannya kepada Inggris, Perancis dan Jepang.

(2). Menanggung ganti rugi perang.
(3). Memperkecil angkatan militer atau perangnya.
(4). Menyerahkan kapal-kapal dagang kepada Inggris, dan
(5). Memberikan wilayah Jerman bagian barat sungai Rhein sebagai jaminan (Selama 15 tahun).

Akan tetapi, Jerman mengingkari semua kesepakatan dalam perjanjian Versailles tersebut sehingga menjadi salah satu penyebab terjadinya Perang Dunia ke II pada tahun 1939.
Selain salah satu penyebab Perang Dunia ke II diatas, terjadinya Perang Dunia II yang melibatkan beberapa negara besar dilatarbelakangi oleh beberapa sebab, yakni sebab umum dan khusus.

A. Penyebab Umum
1). Adanya unjuk kekuatan senjata yang diciptakan oleh beberapa negara dan perlombaan senjata antar negara-negara Eropa, seperti Inggris menciptakan Royal Air Force (Armada Udara) dan Jerman membuat kapal tempur Bismarck dengan peluru kendali Vergeltung (pembalasan).
2). Adanya politik balas dendam (Revanche Idea) yang dilakukan oleh negara Jerman.
3). Adanya politik mencari sekutu dengan munculnya blok Sekutu dan blok Fasis.
4). Gagalnya Liga Bangsa-Bangsa (LBB) dalam upaya menciptakan perdamaian dunia.
5). Adanya politik ekspansi beberapa negara fasis (militer) seperti:
            (a). Jerman, dengan semboyan Jerman Raya (Lebensraum).
            (b). Italia, dengan semboyan Italia Raya (Italia Iradenta) atau (Italia la Prima).
            (c). Jepang dengan semangat Hakko Ichi-u.

B. Penyebab Khusus
1). Penyerbuan Jerman terhadap Polandia pada tanggal 11 September 1939.
2). Terjadi penyerbuan yang dilakukan Jepang terhadap Pangkalan Armada Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbour, Hawaii pada hari Minggu tanggal 7 Desember 1941.

Pada saat terjadi Perang Dunia II, sikap Amerika Serikat memihak sekutu blok demokrasi yang meliputi negara Inggris, Perancis, Belanda, dan Belgia. Hal ini dapat dilihat dari beberapa bentuk bantuan yang diberikan sebagai berikut:
a.  Menerima Lend Lease Act oleh kongres. Perundangan ini memberi kekuasaan kepada presiden untuk menjual, meminjamkan, menyewakan dan juga menukarkan peralatan perang beserta amunisinya yang dibutuhkan oleh sekutu blok demokrasi. Selain itu, Amerika Serikat juga siap mengawal kapal-kapal yang mengangkut keperluan perang ke negara-negara sekutu dan bersedia melemahkan Angkatan Laut Jerman dengan menyita kapal-kapal Jerman yang ada di pelabuhannya.
b.  Membantu rakyat untuk menciptakan demokrasi dengan cara melawan para pemimpinnya di beberapa negara yang mempertahankan diri sebagai negara diktator.

Perang Dunia II di Eropa dimulai tanggal 1 September 1939 saat Jerman menyerbu atau menguasai (aneksasi) Pelabuhan Danzig (Polandia) yang dianggap sebagai miliknya sebelum Perang Dunia I, Austria, dan daerah Sudeten (Cekoslovakia). Agresi militer Jerman ini dipandang oleh semua pihak sebagai tanda awal mula meletusnya Perang Dunia II di Eropa.


a. 3 September 1939: Inggris dan Perancis menyatakan perang terhadap Jerman.
b. 10 Juni 1940: Italia menyatakan perang terhadap Inggris dan Perancis.
c. 22 Juni 1940: Pasukan Jerman dan Italia bergabung mampu menaklukkan Perancis.
d. 6 April 1941: Pasukan Jerman berhasil menduduki Yunani, Yugoslavia, dan Mesir.
e. 8 September 1941: Pasukan Jerman berhasil menduduki Ukraina dan Rusia.
f. 23 Oktober 1942: Pasukan gabungan Sekutu-Amerika Serikat dipimpin oleh Montgomery 
(Inggris) dan Eisenhower (Amerika Serikat) berhasil mengalahkan pasukan gabungan Jerman dan Italia.     
g. 1 Mei 1944: Italia menyerah kepada Sekutu-Amerika Serikat.
h. 6 Juni 1944: Pasukan gabungan Sekutu-Amerika Serikat secara besar-besaran menyerang
Jerman.
i. 30 April 1945: Hitler meninggal dunia dengan cara bunuh diri di bunkernya. 
j. 7 Mei 1945: Jerman menyerah kepada Sekutu-Amerika Serikat dan Perang Dunia II dikawasan Eropa berakhir.

Perang Dunia II di kawasan Asia Pasifik dimulai tanggal 7 Desember 1941 waktu setempat, ditandai dengan Jepang menyerbu Pangkalan Angkatan Laut milik Amerika Serikat di Pearl Harbour, Hawaii yang dianggap sebagai saingan yang kuat. Agresi militer yang dilakukan Jepang inilah sebagai tanda meletusnya Perang Dunia ke II di Asia Pasifik.


a. 7 Desember 1941: Jepang menyerbu Pangkalan Angkatan Laut milik Amerika Serikat di Pearl Harbour, Hawaii.

grey
Foto pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat diserang

b. Tahun 1941-1944: Jepang berhasil menguasai wilayah yang sangat luas meliputi seluruh
wilayah Asia tenggara dan wilayah Cina Timur. Ketika itu, Amerika Serikat dan bangsa Eropa yang berhasil menyelamatkan diri membangun pertahanan di Australia.
c. Juli 1944: Pasukan Amerika Serikat dipimpin Jenderal Mac Arthur dengan siasat perang "Loncat Katak" menyerang pertahanan Jepang di Pulau Saipan (Kepulauan Mariana) Pasifik dan bertempur di Laut Karang. Pada saat itu, Jepang menderita kekalahan dan Pulau Saipan berhasil diduduki Amerika Serikat.
d. 6 Agustus 1945: Kota Hiroshima dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat dan menyusul tanggal 9 Agustus 1945 giliran Kota Nagasaki dibom atom. Kedua kota tersebut hancur total dan instalasi militer Jepang lumpuh.
e. 14 Agustus 1945: Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu.
f. 2 September 1945: Jepang menandatangani perjanjian perdamaian di atas kapal Missouri milik Amerika Serikat, dan Perang Dunia II di kawasan Asia Pasifik berakhir. 


                                                            
Semoga informasi diatas bisa membantu dan menambah ilmu pengetahuan kita semua, OK...

Ingat! Sejarah-sejarah yang pernah terjadi tidak akan pernah terlupakan...
readmore »»  
//SEO SCRIPT POWERED BY www.tutorialblogspot.com